Syarat Hidup

Sharing dr blog Aditya Mulya.(Diambil dari sharing di salah satu Group WA)

Syarat Hidup
October 12th, 2015
Generasi Sebelumnya
Ada seorang operations manager dari sebuah client kantor gue – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang,
“Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.”
“Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask.
“Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.”
This may be simple. But this, blew my mind.
Dan setelah gue menjadi orang tua, di sini lah gue lihat banyak orang tua mulai mengambil langka yang tidak disadari, berdampak.
“Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.”
“Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.”
“Waktu kecil, saya belajar ditemani lilin dan 2 buku. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”
We experienced the worst and therefore we tend to give the best.
The question is, is the best…is what our children need? Really?
Orang sukses itu menjadi sukss karena (1) dididik dengan benar, terlepas dari dari apakah dia kaya atau miskin (2) dididik oleh kesulitan yang dia hadapi.
Kita akui ada anak orang kaya yang tetap jempolan attitudenya dan perjuangannya. Tapi kita lihat kebanyakan orang sukses juga dulunya sulit. Kesulitan (dalam beberapa kasus, kemiskinan) itu yang menjadi drive orang-orang untuk menjadi sukses. Ini adalah resep yang nyata. Kesulitan yang orang-orang sukses ini hadapi adalah ladang ujian di mana mereka menempa diri mereka menjadi orang sukses.
Pertanyaannya, jika kita ingin mencetak anak-anak yang bermental baja, kenapa kita justru memberikan semua kemudahan? Kenapa justru kita hilangkan semua kesulitan itu?
Karena dengan menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, justru kita menciptakan generasi yang syarat hidupnya banyak.
Generasi Berikutnya
Apa yang terjadi dengan dari hasil thinking frame ‘dulu saya susah, saya tidak ingin anak saya susah’? Ini yang terjadi:
Anak dari teman ibu gue terbiasa makan beras impor thailand. Di 98, kita terkena krisis dan orang tuanya tdiak lagi mampu beli beras impor. Yang terjadi adalah, anaknya gak bisa makan.
Ada anak dari teman yang terbiasa makan es krim haagen dasz, ketika pertama kali makan es krim lokal, dia muntah.
Ada cucu yang ngamuk di rumah neneknya karena di rumah nenek, gak ada air panas.
Gue tidak mencibir mereka. Apa adanya seorang manusia itu terjadi dari nature dan nurture. Semua ini, adalah nurture.
Bahkan di kantor pun sama. Di kantor kebetulan gue jadi mentor seseorang (saat ini). Dalam sebuah kesempatan, dia pernah berkata “Duh, gak nyaman di posisi ini.”
Di lain kesempatan, “Sayang ya, si X resign, padahal dia membuat saya nyaman di kantor sini.”
Pada kali kedua gue mendengar mentee gue ngomong ini, gue mulai masuk “Kamu sadar gak, kamu udah 2 kali menggarisbawahi bahwa kenyamanan dalam kerja itu, penting bagi kamu.”
“…”
“Emang sih idealnya nyaman. Tapi sayangnya, this is life. We don’t get to pick ideal situations. Sometimes we need to settle with what we have and deal with it.
Tentang kenyamanan, coba jadikan itu sebagai sesuatu yang ‘nice to have’ dan bukan ‘must have’.”

 

What to Do?
Gue menyukai cara Sultan Jogja mendidik anak-anaknya. Gue pernah dengar bahwa di saat batita, anak sultan dikirim untuk hiidup di desa. Makan susah, main tanah, mandi di sumur. Intinya, meski dia anak sultan, dia tidak tahu bahwa dia anak sultan dan dia merasakan standar hidup yang rendah – dan merasa cukup dengan itu. Setelah agak besar, dia kembali ke istana. Dampaknya, semua Sultan, bersikap merakyat. Dia makan steak, tapi dia tahu bahwa steak yang dia makan adalah sebuah kemewahan. Bukan sebuah syarat hidup niminum.
Gue pun memiliki syarat-syarat hidup. Semenjak menjadi seorang bapak, gue berubah total dan gue kikis hilang itu semua. Karena gue tidak ingin anak-anak gue memiliki syarat hidup yang banyak. Dan satu-satunya cara memastikan itu terjadi adalah bahwa gue pun tidak boleh memiliki syarat hidup banyak.
Gue mengajak mereka naik kopaja atau transjakarta setiap hari ke sekolah, sebelum mereka merasakan bahwa naik angkutan umum itu, rendah.
Gue membiarkan mereka tidur di lantai. Siapa tahu suatu saat nanti mereka harus terus-terusan.
Gue mematikan AC saat mereka tidur – siapa tahu mereka suatu saat cannot afford air conditioning.
Gue tidak menginstall air panas karena gue ingin anak-anak gue baik-baik saja jika suatu saat nanti mereka tiap hari harus mandi air dingin.
Gue melarang mereka main tablet karena gue ingin mereka tidak tergantung dengan kemewahan itu.
Gue melarang mereka menilai teman dari merk mobil mereka karena merk mobil itu gak pernah penting, dan gak akan penting.
Kita pergi ke mall memakai kopaja. And we have fun ketawa-ketawa, seperti jutaan orang lain.
Gue tidak membuang nasi kemarin yang memang masih bagus. Instead gue makan sama anak-anak gue. Siapa tahu suatu saat, that is all they can afford. Agak keras. And we like it.
We teach them to pursue happiness so that they learn the value and purposes of things. Not the price of things.
Nasi kemarin yang masih perfectly safe to eat, masih punya value. Kopaja dan mercy memiliki purpose yang sama, yaitu mengantar kita ke sebuah tempat.
AC atau gak AC memberikan balue yang sama. A good night sleep.
Kenapa semua ini penting? Kita harus ingat bahwa generasi bapak kita adalah generasi yang bersaing dengan 3 milyar orang. Mereka bisa mengumpulkan kekayaan dan membeli kemudahan untuk generasi kita. Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang. Anak kita nanti mungkin harus bersaing dengan 12 milyar orang di generasi mereka.
One needs to be a tough person to be able to compete with 12 billion people. Dan percaya lah, memiliki syarat hidup yang banyak, tidak akan membantu anak-anak kita bersaing dengan 12 milyar orang itu.

Advertisements

ENJOY THE RIDE

Same talent .. Same educational background.. Same family’s background .. Same company’s starter… but big different career path / success ..

Banyak hasil akhir / output yang sering menjadi pertanyaan bagi kita dalam menjalani kehidupan dalam dunia kerja. Simple question seperti “Mengapa karir dia lebih bagus dari saya padahal effort yang kami keluarkan sama” … dan terbentuklah ungkapan “Orang pintar kalah dengan orang yang beruntung”.. Well, kita bahas mengenai kata “luck”/”beruntung”, Seberapa jauh kah “luck” membawa kita? Pertanyaan yang sulit dijawab karena definisi “beruntung” berbeda-beda pada semua orang.. Tapi ada hal yang ingin saya cermati pada pertanyaan ini. Definisi “sukses”, apakah “sukses itu”

One of my friend ever told me, for him, success is when you can sleep at night without worry. Some other, told me that success is when everything goes as what you planned. For me, success is continuity. I’m kind of person who want many things in life.. (guess that’s normal, isn’t it?), Same people, same gender, same university, same group but can make a different output and description about success or life.

One thing I learn, hidup itu bukan kompetisi. Orang-orang sukses tidak berkompetisi dengan orang lain, melainkan give chance to their self to bring out the best potential they have. Kompetisi dengan orang lain, menghasilkan sakit hati (jika kalah) ataupun arogan (jika menang). But we knew exactly, life is not about winning or losing.

Ada yang hidupnya sukses, mendapatkan pekerjaan yang hebat, memiliki keluarga yang utuh, dapat tidur nyenyak setiap hari, jabatan yang tinggi, team kerja yang support, mertua yang baik, dll.. Beberapa orang iri dengan kesuksesan orang lain, iri dengan kebahagiaan orang lain, iri dengan jabatan orang lain, dll. Well, iri adalah normal. We just a human. Tapi kalau mau “iri” terus, you not gonna enjoy life..

Instead of feeling “envy”, change your perspective in life. “halaman tetangga tidak selalu lebih hijau dari halaman kita”. Mau membandingkan halaman orang dengan halaman kita, tidak akan ada habisnya, kenapa tidak berusaha membuat hijau halaman kita sendiri? Hidup itu bukanlah lomba lari / tempat pacuan. Tidak ada garis finis. Tidak ada piala. Hidup itu sendiri sudah merupakan piala buat kita.

Fokus pada garis akhir (lets called it “goal”) adalah penting, tapi terkadang saat kita terlalu focus pada orang lain, kita tidak menikmati pemandangan kita. Ibarat naik kereta api menuju stasiun tujuan, why don’t we look surround us instead of focus what is in front of us. Cause when you focus on thing, you not gonna aware for what happen surround you.

Menjadi sukses itu penting buat kenyamanan kita, namun menjadi bahagia itu penting untuk kesuksesan kita. Memang tidak sesukses “mereka” namun we are better than we used to be, isn’t it?

Stop talking about success, stop envy with what other’s have, why don’t we just enjoy our ride and make success happen. Cause one thing I know for sure, Life isn’t waiting … Let’s create happy moment and enjoy every single moment in life since life is just about sometimes

images

Ohayo Japan

well, i just wanna share My little adventure this year ..

Im starting 2015 with Japan’s trip .. Bought the ticket on September 2014 to Travel this April where the cherry blossom .. We are 10 people who discovering Japan .. And its start from Tokyo (the main city with buziest people).

The trip to Japan start on April 3rd at mid night and arrive there on April 4th. Never thought Japan would be so cold and i hvnt prepare my self for cold. I dont even Know where we going and Which place to visit. Work life quite busy recently until i hv No time think about My trip ..

We start 3 days at Tokyo, went to harajuku, cat cafe, Shibuya, ueno park, Disney sea (they Said there are Only 2 Disney sea in the world and Japan is one of the place) – place is so big and i think i need whole day to go around there and try all the games. 

 The first time i saw sakura.. I fall in love with that flower. So pink, elegant and strong. For me, sakura has its Own character.   

      

 After Tokyo, we visit Hitachi seaside park. Unfortunately, its not the perfect time to See all the flower blooming. They Said it start on May, so we just Saw couple of flower covers the hill. The trip for going there and back, takes around 4hour by bus (quite far and Wasting time, but Hey.. Thats a journey isnt it?)   

  

What is famous for Japan except Sakura, yes, its mount Fuji. Another unfortunately, the weather not so friendly. Its cold, raining all day and snow .. Cant believe i could See snow Here in Japan. We stayed at Kawaguchiko hotel, in front of kawaguchi lake. We have a nice view from our window but we cant See the mount Fuji clearly. The hotel have a great service, for the dinner, onsen (hot bath), yukata and the pick-up service.

     

After kawaguchi, we went to gotemba factory outlet.. Cant imagine that is the heaven for the shopaholic. You can find any brands there and im sure you Will need a whole day to discover the place (it was big area)

But if you like traditional things, you Will find it in Kyoto. I love Kyoto. Its entertain you with street Food, temple, traditional building and its touristic place. We rent the kimono for a day which cost us 6.000 yen (quite expensive but there is No other place you can wear kimono around except Japan, isnt it?). We went around with kimono and many tourist took picture with us (i called it tourist love tourist) 😀😜😆😒. We visit the Bamboo groove, inari, Kyoto tower, and we try the bullet train to Kyoto by Tokyo (its cost 13.500 yen.. So expensive)                 

   

 

When we arrived in Osaka, you can See different atmosfer from Tokyo and Kyoto. Im not spend much at Osaka Cause we arrived late and i need to catch up My flight in the morning.  But it was a great trip i had. With a good friends, with a good laugh. What i love from japan are the technology, the culture, the people and the place. Never thought i would love japan this much. One thing for sure, i would like to Come back again to this country and stay more to discover the city more.

 

Thank you Japan .. For giving me good memories about you

Love, Lala

What kid want from parents

Dapat cerita Ini dari group komunitas psikologi, Dan would like to share ☺️

Pelajaran berharga untuk para orang tua…

Semoga bermanfaat …

Nice to share :

Cerita menarik untuk para orangtua & calon orang tua ..

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD BM Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya. “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapakali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160.

Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku …”

Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”

Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku untuk melakukan sesuatu”.

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”

Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya” .

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak …”

Dika pun menjawab “Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian ia pun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …”

Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa

kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …”

Dika pun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya.

Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar, tetapi sebagai manusia orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahannya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari …”

Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar “Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”.

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan

sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari …”

Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum”.

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa a perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku …”

Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu J**** ****** *******. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku …”

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”.

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

Belajar Bersyukur Dari Orang Pasar

Lets Be Grateful

Cerita pagi ini dimulai saat pergi ke pasar gang baru bersama mama seorang (bukan satu2nya tapi ya mama biologis :D).. got many lesson to learn with our morning activity

  1. Lala VS Mama

Kebiasaan ibu2 mana pun adalah “menawar” saat di pasar.. dan ini dibuktikan ama mama. By the time, lala mau nya praktis (secara, lebih suka belanja di supermarket than market). Even saat membeli daging, I wish I can wear gloves dan si mama masih aja nonyol2 daging yang dibeli. Dan lesson learned adalah bahwa seorang ibu pastinya akan memastikan barang yang dibeli memiliki kualitas baik dan pastinya “murah”… (I guess I still need to learn about that)

  1. Market’s People

Tipe orang yang ada dipasar beraneka ragam. Ada yang temperamen, egois, hard selling atau bahkan acuh tak acuh dengan pembeli.

Yang temperamen : Saat dagangan masih sepi, hal sekecil apapun akan mengganggu emosinya. Terlihat saat ada kucing yang dianggap mengganggu, tak sungkan tukang semangka memukul dengan keras (luckily kucingnya langsung lari, kalau sampai kena, rasanya lala bakal pingsan)

Yang Egois : Saat jalan pasar hanya cukup untuk 2 jalur, masih ada yang bawa sepeda untuk berjalan berhimpitan dengan pejalan kaki tanpa menghiraukan yang lain. Atau ada juga yang tidak mau tetib sehingga asal menyerobot dan tidak memberikan kesempatan orang lain untuk jalan terlebih dahulu.

Yang Cerewet : saat kita sebagai customer ingin membeli sesuatu, sang penjual akan menawarkan dagangannya (even saat kita tidak butuh) dengan setengah memaksa dan memasukannya ke kantong belanjaan (karena menurutnya kita akan membutuhkannya).

Yang acuh ta acuh : Saat customer datang membeli ataupun bertanya akan barang dagangannya, penjual mala sibuk bercerita / bergosip dengan sesama penjual dan tidak menghiraukan pelanggan

  1. Begger

Saya menemukan ada pengemis di pasar yang duduk di tanah dan berbaju tidak layak/kotor. Pada saat dia meminta uang / mengemis, sempat terbersit untuk memberikan rupiah namun saat saya perhatikan, disebelah kanannya memegang rokok. Haish, piye to pak.. Daripada beli rokok ya mending belikan makanan saja.. dan seandainya rokoknya dikasih, kenapa tidak mmemperhatikan kesehatan sendiri.. #TepokJidat

  1. Ibu-Ibu Pasar

Ada suatu cerita yang sangat menyentuh hati and I do learn from that.. serasa ditampar dengan kenyataan.. saat seorang ibu mencari uang dengan menjual potongan cabai merah yang sebenarnya nominal nya tidak seberapa. Bayangkan kalau lala yang pegang cabai aja uda lebay.. (Tuhan, lala jadi tidak bersyukur).. dan saat si ibu makan hanya dengan nasi kecap dan tahu, sedangkan lala, suka makan ga dihabiskan.. (Jadi ngerasa bersalah sendiri)..

A lot of things I saw in the market that open my eyes.. My life is beautiful.. im ore luck than them.. im well educated.. I have a nice job.. I have a good income.. and Im sorry GOD, if I didn’t appreciate it much

a12a89c6977728cb117a268d2d0d6881

 

 

Love,

Lala

Terapi Menulis

Had a great night .. A great chit chat ..
Tema meeting tadi adalah tentang terapi menulis ..

Dalam dunia jurnalistik (apa lah itu namanya), menulis dapat diartikan sebagai suatu aktivitas yang dilakukan dengan tujuan menceritakan atau berbagi pengalaman lewat tulisan.. Bisa jadi output nya adalah buku atau blog..

Sedangkan Dalam dunia psikologi, tes proyeksi yang saat ini dikenal dengan DAP / DAT / HTP test adalah suatu tes yang dilakukan guna mengetahui alam bawah sadar manusia mengenai perasaan terdalamnya tentang “konsep dirinya” ataupun “bagaimana ia menilai dirinya dalam lingkungan”..

Perkembangan tes proyeksi ini akhirnya meluas menjadi “tulisan tangan” atau “graphology”. Mostly yang sering dilihat adalah tendensi seseorang dalam beraksi akan suatu kejadian. Sederhana nya dalam penulisan “huruf” atau pembuatan tanda tangan..

Dan pada saat ini, pengembangan diri dapat dikembangkan lewat menulis (kami menyebutnya “terapi menulis”). Menulis bisa diasosiasikan dengan katarsis .. Bagaimana seseorang menuangkan perasaan terdalamnya akan suatu hal/orang (yang mungkin tidak nyaman jika ia nyatakan secara frontal/lisan kepada orang lain).

Secara tidak langsung, “terapi menulis” ini pernah saya lakukan dalam sesi konseling namun dengan “goal” yang berbeda. Dan perbincangan malam ini dengan salah satu psikolog senior membuat saya menyadari bahwa proses “menulis” sebenarnya adalah suatu “terapi” yang dapat digunakan dalam proses pengembangan diri kita.

Karena itu lah, mengapa penulisan “diary” dianggap cukup efektif dalam pengembangan diri. Karena dalam menulis, kita dapat menjadi “diri kita”.. Dalam menulis , kita dapat menuangkan “rahasia terdalam kita”.. Kita dapat “meluapkan emosi kita”.. Tulisan kita adalah proyeksi kita akan diri kita.

Inilah yang kami sebut “katarsis”.. Dan kalau “menulis” dapat membuatmu menjadi diri sendiri dan pribadi yang lebih baik, why dont you start “writing”
Today ?

^Happy Writing^

#TerapiMenulis #Proyeksi #Katarsis #PengembanganDiri #Psikologi

https://www.psychologytoday.com/blog/sideways-view/201308/writing-therapy

http://en.m.wikipedia.org/wiki/Writing_therapy

IMG_3248-0

10 Marriage Tips Every WIFE Needs to Hear

There’s a blog post that’s recently gone viral, written by a divorced man featuring some really sound advice about marriage (click here to read it).  I really have to applaud this guy.  It takes guts to stand up and be transparent about your failures.  It’s equally as commendable to stand up and say how you’d do things differently.

One thing that his post is lacking, however, is the female perspective.  After reading his post, I wanted to take some time and write down some things that I’ve learned in the last ten years.  You see – I’m now in my third marriage.  When people learn this fact about me, their reaction is usually pretty awkward.  It’s almost as if they’re waiting for me to be embarrassed by my admission. While going through two divorces was some of the most painful times of my life, I’d only feel ashamed if I’d gone through it without being able to say I’ve learned a thing or two.  My husband and I had both been through divorce before we married each other, and with that brings a unique perspective into many do’s and don’ts of how to treat your spouse. Don’t get me wrong – our marriage isn’t perfect, but our failures in past relationships have shaped decisions we make about the way we treat each other, and to be honest, I’m glad I went through it.  We’ve learned better, so now we do better.

And with that, I’d like to offer up my version of his wise marriage tips – from a woman who has triumphed the murky waters of divorce (and if you’re interested, my husband also wrote one from his perspective).

  1. Respect your husband.  – Notice how it doesn’t say “Respect your husband if he has earned it”. A man’s greatest need in this world is to be respected, and the person he desires that respect from the most is his wife.  The trap that we’ve all been ensnared by is that they only deserve our respect when they earn it. Yes, we want our husbands to make decisions that will ultimately garner our respect, but the truth is that your husband is a human being. A human being who makes mistakes. This is the man that YOU have chosen to walk alongside you for the rest of your life, and to lead your family and he needs to be respected for that quality alone. Take it from me – when respect is given even when he doesn’t deserve it, it will motivate him to earn it. That doesn’t mean you pretend that his choices are good ones when they aren’t. Things like that still need to be communicated, but you can flesh out your differences WITH RESPECT. It makes all the difference in the world to him.
  2. Guard your heart.  – The grass is not greener on the other side. Do not believe the lie that with a slimmer figure, a higher salary, a faster car, or a bigger house, you will be a happier woman. The world is full of things and people that will serve as reminders that you don’t have the best of the best, but it’s simply not true. Live the life you’ve been blessed with, and BE THANKFUL. I get that we all have struggles, and there are even times when I would love 1,000 more square feet of house to live in, but square feet is not fulfilling – relationships are. Guard your heart from things and people that will try to convince you that your life or your husband is not good enough.  There will always be bigger, faster, stronger, or shinier – but you’ll never be satisfied with more until you’re fulfilled with what you have now.
  3. God, husband, kids…in that order.  – I know this isn’t a popular philosophy, especially among mothers, but hear me out. It’s no secret that my faith is of utmost importance, so God comes first in my life no matter what. But regardless of your belief system, your husband should come before your kids. Now unless you’re married to someone who is abusive  (in which case, I urge you to seek help beyond what my blog can give you), no man in his right mind would ask you to put your kids aside to serve his every need while neglecting them. That’s not what this means. When you board an airplane, the flight attendants are required to go over emergency preparedness prior to takeoff. When explaining the part about how to operate the oxygen mask, passengers are instructed to first put the mask on themselves before putting it on their small child. Is that because they think you are more important than your kids? Absolutely not. But you cannot effectively help your child if you can’t breathe yourself. The same holds true with marriage and parenting. You cannot effectively parent your children if your marriage is falling apart. Take it from me – I tried. There will also come a time when your kids will leave the house to pursue their dreams as adults. If you have not cultivated a lasting relationship with your spouse, you will have both empty nests and empty hearts.
  4. Forgive.  – No one is perfect. Everyone makes mistakes. If you make forgiveness a habit – for everything from major mistakes to little annoyances (every day, I have to forgive my husband for leaving the wet towel on the bathroom counter ;)) – you will keep resentment from growing.
  5. Over-communicate.  – I used to have a bad habit of not speaking my feelings. I played the standard “You should know why I’m mad” game, and that’s just downright unfair. Men are not wired like women, and they DON’T always know that they’ve been insensitive. I’m still growing in this area, and there are often times when my husband has to pry something out of me, but I’m trying to remember that I need to just communicate how I feel.
  6. Schedule a regular date night.  – This one isn’t new, but it’s very important. Never stop dating your spouse.  Even if you can’t afford dinner and a movie (which we seldom can), spending some regular one-on-one time with your spouse is essential. Don’t talk about bills, or schedules, or the kids. Frankie and I often daydream about our future, or plan our dream vacation. We connect emotionally and often learn something new about each other – even after four years.
  7. Never say the “D Word”.  – If you’re gonna say it, you better mean it. Plain and simple, threatening divorce is not fighting fair. I did this a lot in my previous marriages. I’m not proud of it, but I learned better. I was hurting deeply, and I wanted to hurt back, but it never helped me feel better.
  8. Learn his love language.  – Everyone has a love language. The way you perceive love is often different from the way your spouse perceives love. Does he like words of affirmation, or does he respond better when you give him gifts? Whatever his love language is – learn it and USE IT.  Edited to add: If you are unfamiliar with the principles behind love languages, you can learn more about it here.
  9. Never talk negatively about him.  – I learned this lesson the hard way too. If you’re going through a difficult time in your marriage and you need advice, see a counselor. Family counseling is a great tool, but try to remember that your family members and friends are not the most objective people to give advice. The argument they are hearing is one-sided and they often build up negative feelings toward your spouse, which usually doesn’t subside once you and your husband have gotten past it. Protect his image with those that you’re close with and seek help from those that can actually be objective.  News flash, ladies – your mother cannot be objective!
  10. Choose to love.  – There are times in a marriage that you may wake up and not feel in love anymore. Choose to love anyway. There are times when you may not be attracted to your husband anymore. Choose to love anyway. Marriage is a commitment. In sickness and health, in good times and in bad. Those vows are sacred. They don’t say “if you have bad times”. They say “in good times AND in bad”, implying that there WILL be bad times. It’s inevitable. So choose to love anyway. He’s worth it.

http://eighthrising.com/2013/10/28/10-marriage-tips-every-wife-needs-to-hear/

Love is Here .. love is Now ..

When (some) people think that successful relationship depend on “how big Your House is”.. “How rich you are”.. “How fast ur business run”..

Somehow we just forget that its not about all of that .. When we think that “maybe if we have a bigger house, we Will have quality time without distraction”..

“If we are rich, we can be Happy Cause we not stress about the money”..
“If the business going well, we Will have relaxing mind and can take some vacation or honeymoon”..

But the “IF” just a reason that we think is “right” and when we have all of that, we missed the moments that happen in our life..

Enjoy every little condition in life and throw away the word “IF”.. Cause if you are looking for when is the right time to be “READY”, you Will wait until the rest of Your life …

PS : Tu me manques .. I miss Us 😊☺️😉

2015/01/img_1342.jpg

“meminta” di 2015

Cerita pagi ini ….

Saat saya sedang duduk sendiri menikmati kopi di restoran hotel .. Tiba-tiba ada anak perempuan remaja (mungkin sekitar 15 tahun) yang lgs ke meja saya mengambil sendok garpu and just say “Sorry” dan kembali duduk di meja dengan keluarganya

Selang beberapa saat, dia dtg lagi dengan mengambil tissue dan hanya berucap “Sorry”..

Yang saya cermati hanyalah gerak tubuh anak ini … Apakah sudah separah itu sopan santun di negara kita sampai mengambil barang di meja orang lain hanya diungkapkan oleh kata “Sorry”?..

Bukankah harusnya dia menanyakan terlebih dahulu “maaf, bolehkah alat makannya saya ambil etc”.. Just a bit surprise dengan kejadian ini dan orang tua nya pun hanya berdiam saja ..

Akan muncul pertanyaan “apa yang salah dalam pola didik sopan santun generasi bawah kita?” .. Kota Jawa tengah cukup terkenal dengan sopan santun yang cukup tinggi tapi diluar dari pemetaan daerah, bukankah sopan santun memang harus diterapkan dalam kondisi sehari-hari

Kalau kita bicara mengenai lintas budaya, banyak dari kita yang menganggap bahwa “bangsa luar” lebih frontal dalam berbicara.. Namun sejauh saya melihat, mereka menghargai “kepemilikan” orang lain. Mereka akan bertanya terlebih dahulu sebelum melakukan.

Pernah suatu ketika saat saya sedang pergi bersama teman-teman dalam suatu acara keluarga, ada seorang anak kecil (A) yang ingin sekali duduk di kursi mainan yang dibawa oleh si (B). Orangtua nya menganjurkan (A) untuk bertanya dulu apakah dia boleh meminjam kursi (B). Dan pada saat itu (B) menolak meminjamkan. Sang ayah memberi pengertian kepada anaknya bahwa dia harus bisa menerima penolakan tersebut dan ayahnya bangga karena ia berusaha untuk bertanya dan menghargai milik orang lain..

Somehow yang terjadi pada masyarakat kita adalah “kakak boleh meminta sesuatu/barang dari adiknya dan itu adalah harus” atau “adik boleh meminjam sesuatu/barang kepada kakaknya dan itu sifatnya wajib”..

Kita tidak terbiasa untuk “meminta ijin” terlebih dahulu karena kita berfikiran bahwa itu adalah “sudah seharusnya”.. Saya mengambil kesimpulan bahwa saat suatu benda “dirasa” tidak dipakai atau diperlukan atau dibutuhkan oleh orang lain, somehow orang akan melihatnya sebagai sesuatu yang dapat diambil tanpa perlu meminta ijin ..

Yuk mari kita perbaiki pola yang salah ini .. Karena tugas mengajarkan sopan santun adalah tugas kita sebagai orangtua / pendidik / kakak / keluarga. Bagaimanapun pendidikan sopan santun adalah tugas dari “keluarga” bukan “sekolah”..

Mari direnungkan …
– Sudahkah kita mengucapkan “terima kasih” jika kita diberi sesuatu ?
– Sudahkah kita mengucapkan “tolong” saat meminta bantuan ?
– Sudahkah kita mengucapkan “maaf” jika kita berbuat salah ?

Selamat hari Rabu baik .. Selamat menerapkan “sopan santun” dalam keseharian kita dan memberikan contoh bagi anak-anak / rekan / teman / orang-orang di sekeliling kita

The Last Day in 2014

It’s the last day in 2014… let’s start counting our blessing in this 2014… And let me say “Thank You” for ….

  1. The lesson of work

Thank you for the work .. for the job .. for the chance to expand my ability..

Thank you for the new relationship.. for a chance to meet other people..

Thank you for the salary I’ve got every month from my work and my business..

Thank you for the all people at my work who support and cooperative during 2014

Thank you for the joy it’s bring in my office hour

Thank you for the cute assistants who always support my business

Thank you for my client’s trust into our services

Thank you for everything related to my work.. it’s going good and im sure it will going great in 2015

  1. The lesson of love

Thank you for showing me that love is universal

Thank you for your attention.. for love me unconditionally..

Thank you for being my lovely family..

Thank you for all the lesson about sacrifice, loving, jealousy, affair, fighting..

Thank you for all the joy you brought for these 4 months

Thank you for giving me a chance to be a mother

Thank you for makes me feel wonderful by having you inside of me

Thank you for this beautiful moment you shared with me

Thank you for all the good and the bad in our relationship

Thank you for show me more than I deserve..

Most of all, thank you for all the moment we share… until now.. it gave me strength, faith, love and happiness

  1. The lesson of life

Thank you for showing me that good friends can turn bad

Thank you for remind me that whatever you did good was not enough for lower people

Thank you for all the hate you shown me, because of that I fly higher

Thank you for saying something bad about me, because of that I become more popular

Thank you for stab me from behind, because of that I learn about a true friends

Thank you for being a bitch, because of that I knew , you are lower level than me

Thank you for showing me who you hang around with, cause I know who are the bitches around me

Thank you for cheat on me in business, because of that I raise my own standard of partnership

Thank you for being two faces, because of that I knew how to face you

Thank you for remind me nothing last forever, because of that I try to appreciate every moment

Thank you for the beautiful creature in life, because of that I feel rich and warm

Thank you for showing me that death could come anytime, because of that I try to cherish every second I have

Most of all, thank you for all joy, laughter, sadness in 2014

For the death.. for the love.. for the new life.. for the blessing..

I’ve learn, sometimes LIFE will give you a lesson in life or a person in life..

And I still thankful for that..

 

Dear 2014, Thank you for the lesson

Dear 2015, Try me.. I’m Ready

good-by-2014-welcome-2015-hd-images

With Love,

Lala