What kid want from parents

Dapat cerita Ini dari group komunitas psikologi, Dan would like to share ☺️

Pelajaran berharga untuk para orang tua…

Semoga bermanfaat …

Nice to share :

Cerita menarik untuk para orangtua & calon orang tua ..

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD BM Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya. “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapakali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160.

Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku …”

Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”

Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku untuk melakukan sesuatu”.

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”

Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya” .

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak …”

Dika pun menjawab “Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian ia pun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …”

Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa

kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …”

Dika pun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya.

Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar, tetapi sebagai manusia orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahannya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari …”

Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar “Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”.

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan

sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari …”

Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum”.

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa a perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku …”

Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu J**** ****** *******. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku …”

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”.

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

Advertisements

Belajar Bersyukur Dari Orang Pasar

Lets Be Grateful

Cerita pagi ini dimulai saat pergi ke pasar gang baru bersama mama seorang (bukan satu2nya tapi ya mama biologis :D).. got many lesson to learn with our morning activity

  1. Lala VS Mama

Kebiasaan ibu2 mana pun adalah “menawar” saat di pasar.. dan ini dibuktikan ama mama. By the time, lala mau nya praktis (secara, lebih suka belanja di supermarket than market). Even saat membeli daging, I wish I can wear gloves dan si mama masih aja nonyol2 daging yang dibeli. Dan lesson learned adalah bahwa seorang ibu pastinya akan memastikan barang yang dibeli memiliki kualitas baik dan pastinya “murah”… (I guess I still need to learn about that)

  1. Market’s People

Tipe orang yang ada dipasar beraneka ragam. Ada yang temperamen, egois, hard selling atau bahkan acuh tak acuh dengan pembeli.

Yang temperamen : Saat dagangan masih sepi, hal sekecil apapun akan mengganggu emosinya. Terlihat saat ada kucing yang dianggap mengganggu, tak sungkan tukang semangka memukul dengan keras (luckily kucingnya langsung lari, kalau sampai kena, rasanya lala bakal pingsan)

Yang Egois : Saat jalan pasar hanya cukup untuk 2 jalur, masih ada yang bawa sepeda untuk berjalan berhimpitan dengan pejalan kaki tanpa menghiraukan yang lain. Atau ada juga yang tidak mau tetib sehingga asal menyerobot dan tidak memberikan kesempatan orang lain untuk jalan terlebih dahulu.

Yang Cerewet : saat kita sebagai customer ingin membeli sesuatu, sang penjual akan menawarkan dagangannya (even saat kita tidak butuh) dengan setengah memaksa dan memasukannya ke kantong belanjaan (karena menurutnya kita akan membutuhkannya).

Yang acuh ta acuh : Saat customer datang membeli ataupun bertanya akan barang dagangannya, penjual mala sibuk bercerita / bergosip dengan sesama penjual dan tidak menghiraukan pelanggan

  1. Begger

Saya menemukan ada pengemis di pasar yang duduk di tanah dan berbaju tidak layak/kotor. Pada saat dia meminta uang / mengemis, sempat terbersit untuk memberikan rupiah namun saat saya perhatikan, disebelah kanannya memegang rokok. Haish, piye to pak.. Daripada beli rokok ya mending belikan makanan saja.. dan seandainya rokoknya dikasih, kenapa tidak mmemperhatikan kesehatan sendiri.. #TepokJidat

  1. Ibu-Ibu Pasar

Ada suatu cerita yang sangat menyentuh hati and I do learn from that.. serasa ditampar dengan kenyataan.. saat seorang ibu mencari uang dengan menjual potongan cabai merah yang sebenarnya nominal nya tidak seberapa. Bayangkan kalau lala yang pegang cabai aja uda lebay.. (Tuhan, lala jadi tidak bersyukur).. dan saat si ibu makan hanya dengan nasi kecap dan tahu, sedangkan lala, suka makan ga dihabiskan.. (Jadi ngerasa bersalah sendiri)..

A lot of things I saw in the market that open my eyes.. My life is beautiful.. im ore luck than them.. im well educated.. I have a nice job.. I have a good income.. and Im sorry GOD, if I didn’t appreciate it much

a12a89c6977728cb117a268d2d0d6881

 

 

Love,

Lala

Terapi Menulis

Had a great night .. A great chit chat ..
Tema meeting tadi adalah tentang terapi menulis ..

Dalam dunia jurnalistik (apa lah itu namanya), menulis dapat diartikan sebagai suatu aktivitas yang dilakukan dengan tujuan menceritakan atau berbagi pengalaman lewat tulisan.. Bisa jadi output nya adalah buku atau blog..

Sedangkan Dalam dunia psikologi, tes proyeksi yang saat ini dikenal dengan DAP / DAT / HTP test adalah suatu tes yang dilakukan guna mengetahui alam bawah sadar manusia mengenai perasaan terdalamnya tentang “konsep dirinya” ataupun “bagaimana ia menilai dirinya dalam lingkungan”..

Perkembangan tes proyeksi ini akhirnya meluas menjadi “tulisan tangan” atau “graphology”. Mostly yang sering dilihat adalah tendensi seseorang dalam beraksi akan suatu kejadian. Sederhana nya dalam penulisan “huruf” atau pembuatan tanda tangan..

Dan pada saat ini, pengembangan diri dapat dikembangkan lewat menulis (kami menyebutnya “terapi menulis”). Menulis bisa diasosiasikan dengan katarsis .. Bagaimana seseorang menuangkan perasaan terdalamnya akan suatu hal/orang (yang mungkin tidak nyaman jika ia nyatakan secara frontal/lisan kepada orang lain).

Secara tidak langsung, “terapi menulis” ini pernah saya lakukan dalam sesi konseling namun dengan “goal” yang berbeda. Dan perbincangan malam ini dengan salah satu psikolog senior membuat saya menyadari bahwa proses “menulis” sebenarnya adalah suatu “terapi” yang dapat digunakan dalam proses pengembangan diri kita.

Karena itu lah, mengapa penulisan “diary” dianggap cukup efektif dalam pengembangan diri. Karena dalam menulis, kita dapat menjadi “diri kita”.. Dalam menulis , kita dapat menuangkan “rahasia terdalam kita”.. Kita dapat “meluapkan emosi kita”.. Tulisan kita adalah proyeksi kita akan diri kita.

Inilah yang kami sebut “katarsis”.. Dan kalau “menulis” dapat membuatmu menjadi diri sendiri dan pribadi yang lebih baik, why dont you start “writing”
Today ?

^Happy Writing^

#TerapiMenulis #Proyeksi #Katarsis #PengembanganDiri #Psikologi

https://www.psychologytoday.com/blog/sideways-view/201308/writing-therapy

http://en.m.wikipedia.org/wiki/Writing_therapy

IMG_3248-0

10 Marriage Tips Every WIFE Needs to Hear

There’s a blog post that’s recently gone viral, written by a divorced man featuring some really sound advice about marriage (click here to read it).  I really have to applaud this guy.  It takes guts to stand up and be transparent about your failures.  It’s equally as commendable to stand up and say how you’d do things differently.

One thing that his post is lacking, however, is the female perspective.  After reading his post, I wanted to take some time and write down some things that I’ve learned in the last ten years.  You see – I’m now in my third marriage.  When people learn this fact about me, their reaction is usually pretty awkward.  It’s almost as if they’re waiting for me to be embarrassed by my admission. While going through two divorces was some of the most painful times of my life, I’d only feel ashamed if I’d gone through it without being able to say I’ve learned a thing or two.  My husband and I had both been through divorce before we married each other, and with that brings a unique perspective into many do’s and don’ts of how to treat your spouse. Don’t get me wrong – our marriage isn’t perfect, but our failures in past relationships have shaped decisions we make about the way we treat each other, and to be honest, I’m glad I went through it.  We’ve learned better, so now we do better.

And with that, I’d like to offer up my version of his wise marriage tips – from a woman who has triumphed the murky waters of divorce (and if you’re interested, my husband also wrote one from his perspective).

  1. Respect your husband.  – Notice how it doesn’t say “Respect your husband if he has earned it”. A man’s greatest need in this world is to be respected, and the person he desires that respect from the most is his wife.  The trap that we’ve all been ensnared by is that they only deserve our respect when they earn it. Yes, we want our husbands to make decisions that will ultimately garner our respect, but the truth is that your husband is a human being. A human being who makes mistakes. This is the man that YOU have chosen to walk alongside you for the rest of your life, and to lead your family and he needs to be respected for that quality alone. Take it from me – when respect is given even when he doesn’t deserve it, it will motivate him to earn it. That doesn’t mean you pretend that his choices are good ones when they aren’t. Things like that still need to be communicated, but you can flesh out your differences WITH RESPECT. It makes all the difference in the world to him.
  2. Guard your heart.  – The grass is not greener on the other side. Do not believe the lie that with a slimmer figure, a higher salary, a faster car, or a bigger house, you will be a happier woman. The world is full of things and people that will serve as reminders that you don’t have the best of the best, but it’s simply not true. Live the life you’ve been blessed with, and BE THANKFUL. I get that we all have struggles, and there are even times when I would love 1,000 more square feet of house to live in, but square feet is not fulfilling – relationships are. Guard your heart from things and people that will try to convince you that your life or your husband is not good enough.  There will always be bigger, faster, stronger, or shinier – but you’ll never be satisfied with more until you’re fulfilled with what you have now.
  3. God, husband, kids…in that order.  – I know this isn’t a popular philosophy, especially among mothers, but hear me out. It’s no secret that my faith is of utmost importance, so God comes first in my life no matter what. But regardless of your belief system, your husband should come before your kids. Now unless you’re married to someone who is abusive  (in which case, I urge you to seek help beyond what my blog can give you), no man in his right mind would ask you to put your kids aside to serve his every need while neglecting them. That’s not what this means. When you board an airplane, the flight attendants are required to go over emergency preparedness prior to takeoff. When explaining the part about how to operate the oxygen mask, passengers are instructed to first put the mask on themselves before putting it on their small child. Is that because they think you are more important than your kids? Absolutely not. But you cannot effectively help your child if you can’t breathe yourself. The same holds true with marriage and parenting. You cannot effectively parent your children if your marriage is falling apart. Take it from me – I tried. There will also come a time when your kids will leave the house to pursue their dreams as adults. If you have not cultivated a lasting relationship with your spouse, you will have both empty nests and empty hearts.
  4. Forgive.  – No one is perfect. Everyone makes mistakes. If you make forgiveness a habit – for everything from major mistakes to little annoyances (every day, I have to forgive my husband for leaving the wet towel on the bathroom counter ;)) – you will keep resentment from growing.
  5. Over-communicate.  – I used to have a bad habit of not speaking my feelings. I played the standard “You should know why I’m mad” game, and that’s just downright unfair. Men are not wired like women, and they DON’T always know that they’ve been insensitive. I’m still growing in this area, and there are often times when my husband has to pry something out of me, but I’m trying to remember that I need to just communicate how I feel.
  6. Schedule a regular date night.  – This one isn’t new, but it’s very important. Never stop dating your spouse.  Even if you can’t afford dinner and a movie (which we seldom can), spending some regular one-on-one time with your spouse is essential. Don’t talk about bills, or schedules, or the kids. Frankie and I often daydream about our future, or plan our dream vacation. We connect emotionally and often learn something new about each other – even after four years.
  7. Never say the “D Word”.  – If you’re gonna say it, you better mean it. Plain and simple, threatening divorce is not fighting fair. I did this a lot in my previous marriages. I’m not proud of it, but I learned better. I was hurting deeply, and I wanted to hurt back, but it never helped me feel better.
  8. Learn his love language.  – Everyone has a love language. The way you perceive love is often different from the way your spouse perceives love. Does he like words of affirmation, or does he respond better when you give him gifts? Whatever his love language is – learn it and USE IT.  Edited to add: If you are unfamiliar with the principles behind love languages, you can learn more about it here.
  9. Never talk negatively about him.  – I learned this lesson the hard way too. If you’re going through a difficult time in your marriage and you need advice, see a counselor. Family counseling is a great tool, but try to remember that your family members and friends are not the most objective people to give advice. The argument they are hearing is one-sided and they often build up negative feelings toward your spouse, which usually doesn’t subside once you and your husband have gotten past it. Protect his image with those that you’re close with and seek help from those that can actually be objective.  News flash, ladies – your mother cannot be objective!
  10. Choose to love.  – There are times in a marriage that you may wake up and not feel in love anymore. Choose to love anyway. There are times when you may not be attracted to your husband anymore. Choose to love anyway. Marriage is a commitment. In sickness and health, in good times and in bad. Those vows are sacred. They don’t say “if you have bad times”. They say “in good times AND in bad”, implying that there WILL be bad times. It’s inevitable. So choose to love anyway. He’s worth it.

http://eighthrising.com/2013/10/28/10-marriage-tips-every-wife-needs-to-hear/

Love is Here .. love is Now ..

When (some) people think that successful relationship depend on “how big Your House is”.. “How rich you are”.. “How fast ur business run”..

Somehow we just forget that its not about all of that .. When we think that “maybe if we have a bigger house, we Will have quality time without distraction”..

“If we are rich, we can be Happy Cause we not stress about the money”..
“If the business going well, we Will have relaxing mind and can take some vacation or honeymoon”..

But the “IF” just a reason that we think is “right” and when we have all of that, we missed the moments that happen in our life..

Enjoy every little condition in life and throw away the word “IF”.. Cause if you are looking for when is the right time to be “READY”, you Will wait until the rest of Your life …

PS : Tu me manques .. I miss Us 😊☺️😉

2015/01/img_1342.jpg

“meminta” di 2015

Cerita pagi ini ….

Saat saya sedang duduk sendiri menikmati kopi di restoran hotel .. Tiba-tiba ada anak perempuan remaja (mungkin sekitar 15 tahun) yang lgs ke meja saya mengambil sendok garpu and just say “Sorry” dan kembali duduk di meja dengan keluarganya

Selang beberapa saat, dia dtg lagi dengan mengambil tissue dan hanya berucap “Sorry”..

Yang saya cermati hanyalah gerak tubuh anak ini … Apakah sudah separah itu sopan santun di negara kita sampai mengambil barang di meja orang lain hanya diungkapkan oleh kata “Sorry”?..

Bukankah harusnya dia menanyakan terlebih dahulu “maaf, bolehkah alat makannya saya ambil etc”.. Just a bit surprise dengan kejadian ini dan orang tua nya pun hanya berdiam saja ..

Akan muncul pertanyaan “apa yang salah dalam pola didik sopan santun generasi bawah kita?” .. Kota Jawa tengah cukup terkenal dengan sopan santun yang cukup tinggi tapi diluar dari pemetaan daerah, bukankah sopan santun memang harus diterapkan dalam kondisi sehari-hari

Kalau kita bicara mengenai lintas budaya, banyak dari kita yang menganggap bahwa “bangsa luar” lebih frontal dalam berbicara.. Namun sejauh saya melihat, mereka menghargai “kepemilikan” orang lain. Mereka akan bertanya terlebih dahulu sebelum melakukan.

Pernah suatu ketika saat saya sedang pergi bersama teman-teman dalam suatu acara keluarga, ada seorang anak kecil (A) yang ingin sekali duduk di kursi mainan yang dibawa oleh si (B). Orangtua nya menganjurkan (A) untuk bertanya dulu apakah dia boleh meminjam kursi (B). Dan pada saat itu (B) menolak meminjamkan. Sang ayah memberi pengertian kepada anaknya bahwa dia harus bisa menerima penolakan tersebut dan ayahnya bangga karena ia berusaha untuk bertanya dan menghargai milik orang lain..

Somehow yang terjadi pada masyarakat kita adalah “kakak boleh meminta sesuatu/barang dari adiknya dan itu adalah harus” atau “adik boleh meminjam sesuatu/barang kepada kakaknya dan itu sifatnya wajib”..

Kita tidak terbiasa untuk “meminta ijin” terlebih dahulu karena kita berfikiran bahwa itu adalah “sudah seharusnya”.. Saya mengambil kesimpulan bahwa saat suatu benda “dirasa” tidak dipakai atau diperlukan atau dibutuhkan oleh orang lain, somehow orang akan melihatnya sebagai sesuatu yang dapat diambil tanpa perlu meminta ijin ..

Yuk mari kita perbaiki pola yang salah ini .. Karena tugas mengajarkan sopan santun adalah tugas kita sebagai orangtua / pendidik / kakak / keluarga. Bagaimanapun pendidikan sopan santun adalah tugas dari “keluarga” bukan “sekolah”..

Mari direnungkan …
– Sudahkah kita mengucapkan “terima kasih” jika kita diberi sesuatu ?
– Sudahkah kita mengucapkan “tolong” saat meminta bantuan ?
– Sudahkah kita mengucapkan “maaf” jika kita berbuat salah ?

Selamat hari Rabu baik .. Selamat menerapkan “sopan santun” dalam keseharian kita dan memberikan contoh bagi anak-anak / rekan / teman / orang-orang di sekeliling kita

The Last Day in 2014

It’s the last day in 2014… let’s start counting our blessing in this 2014… And let me say “Thank You” for ….

  1. The lesson of work

Thank you for the work .. for the job .. for the chance to expand my ability..

Thank you for the new relationship.. for a chance to meet other people..

Thank you for the salary I’ve got every month from my work and my business..

Thank you for the all people at my work who support and cooperative during 2014

Thank you for the joy it’s bring in my office hour

Thank you for the cute assistants who always support my business

Thank you for my client’s trust into our services

Thank you for everything related to my work.. it’s going good and im sure it will going great in 2015

  1. The lesson of love

Thank you for showing me that love is universal

Thank you for your attention.. for love me unconditionally..

Thank you for being my lovely family..

Thank you for all the lesson about sacrifice, loving, jealousy, affair, fighting..

Thank you for all the joy you brought for these 4 months

Thank you for giving me a chance to be a mother

Thank you for makes me feel wonderful by having you inside of me

Thank you for this beautiful moment you shared with me

Thank you for all the good and the bad in our relationship

Thank you for show me more than I deserve..

Most of all, thank you for all the moment we share… until now.. it gave me strength, faith, love and happiness

  1. The lesson of life

Thank you for showing me that good friends can turn bad

Thank you for remind me that whatever you did good was not enough for lower people

Thank you for all the hate you shown me, because of that I fly higher

Thank you for saying something bad about me, because of that I become more popular

Thank you for stab me from behind, because of that I learn about a true friends

Thank you for being a bitch, because of that I knew , you are lower level than me

Thank you for showing me who you hang around with, cause I know who are the bitches around me

Thank you for cheat on me in business, because of that I raise my own standard of partnership

Thank you for being two faces, because of that I knew how to face you

Thank you for remind me nothing last forever, because of that I try to appreciate every moment

Thank you for the beautiful creature in life, because of that I feel rich and warm

Thank you for showing me that death could come anytime, because of that I try to cherish every second I have

Most of all, thank you for all joy, laughter, sadness in 2014

For the death.. for the love.. for the new life.. for the blessing..

I’ve learn, sometimes LIFE will give you a lesson in life or a person in life..

And I still thankful for that..

 

Dear 2014, Thank you for the lesson

Dear 2015, Try me.. I’m Ready

good-by-2014-welcome-2015-hd-images

With Love,

Lala

You always be the one …

Maybe God knows if im lying to Him..

I always said im fine, but i know exactly i am not..

I said everything will be okay, but i dont know how to make it okay..

I said i will get through this, in fact i dont know how to live every second of my day..

I said i will live happier, but i just know well how to cry instead of smile..

I said i will fix my life, but all i do just trying to back in time when i was with you..

I said there will always a sunshine after the rain, but i dont have any sunshine in my world..

I said i already let it go, the truth is i still hold that memories tight..

You ll think i am crazy.. You ll said i am weak.. You will feel my anger..

Most of all, dont try to understand me..

Dont try to judge my path .. Cause you never walked on my journey..

you-are-my-sunshine-canvas-main-2634-2634

You Just Have HEAVEN Before We Do

image(8)

another sad news came into our life when we lost our sunshine.. our little angel.. our baby boy..

it’s all come so fast and unpredictable. It happened on Tuesday (April 15th 2014), when I woke up with fever. But as usually, I always think it will disappear by it’s self (however, it’s just a fever).

So, I told my husband to hug me and I said I got fever. He ask me to rest or took some pills but I insist for not took any pills cause I’m pregnant. And I still went to office and work as my routine activity. But I realize, I’m really sick. I don’t like to eat and got headache.

so, in the afternoon around 1.30pm, I went home to rest. I took my panadol and try to sleep. Suddenly I woke up cause I felt something wet under my pant. That’s when I realize I got bleeding. I went to toilet for pee and suddenly blood just came out like menstruation. I got panic, I called the doctor and he said that it’s okay. But when I see the blood still come out, I call the doctor and he suggest me to go to emergency straight away.

at 4pm, I went to emergency while my husband still on the way back to Semarang from Jepara. At 6pm, I went to the room and then my husband arrived. The nurse ask me for not walk and just stay in the bed all the time. Around 10.30pm, the doctor come and check by USG. He said the baby was fine but I have Placenta Previa (Placenta previa is a problem of pregnancy in which the placenta grows in the lowest part of the womb (uterus) and covers all or part of the opening to the cervix. The placenta grows during pregnancy and feeds the developing baby. The cervix is the opening to the birth canal). But he said everything was fine, and tomorrow morning he will do some test.

The next morning, when my husband back home to work, around 11am, the nurse bring me to the doctor to check the vagina (to see if there is any infection etc). When he check, suddenly he got surprise and said “aduh..”, at the time I knew, something wasn’t right. I ask him, what happen. And he just said “the sac already come out and there is nothing we can do, the baby cant be saved”. and yes, all the world just fall down in pieces.. I cant think, I just can cry.. all the way back to my room..

straight away, I call my husband and give the bad news, he just deny it and always said “ how could this happen? last night he checked everything was fine..” and he suddenly came to the hospital and I just continue cry…

at night, the doctor check again and he show my husband the sac and another statement that nothing we can do to help it. So, he suggest me to give birth and bedrest or do induction and give birth at hospital. We took the 2nd option cause my husband think that is the best way instead of I’ll feel cramp at home and it will makes me trauma.

So, on Thursday at 12pm, they do induction.. unfortunately I don’t feel any cramp just blood still come out. And on Friday afternoon after lunch, they give me pills to make contraction, and it’s work. Around 1.45pm, I feel the contraction.. it’s painful and blood more come out. then suddenly I feel something inside wanna come out. I press the button to call the nurse and when she came, she’s panic also. The process of give birth starting.

 they prepare the tools and my husband just arrived, he hold my hand and ask me to take a deep breath, it was so quick. at 2.37pm, my baby was born.. The doctor offer me to open the sac and see the gender but my husband refuse it. He said that it not good for me, for us, to remember our baby that way. He wants me to remember when I still have the baby in my womb, feel the heart beat and feel the moves.

But the doctor show us, our baby.. so cute.. so tiny.. so peaceful.. still remember the shape of the baby.. still remember his nose, eyes, lips, hands, nails, legs.. he just so perfect for me.. When the doctor wanna turn the baby around, he saw something between the leg and suddenly he said “congratulation mam, your baby is a boy”.. Yes, I have a baby boy..

Me and my husband just holding hands and crying.. This is our second time for lost our baby.. still blaming my self, I should see the doctor when I feel fever, I should drink a lot of water, I should be more concern with my health.. cause we just realize, I got the urinary infection, that’s make me fever and without we knew it, I got contraction at the hospital that makes the sac come out.

it was unplanned moment.. it just a shocking moment.. and now I still feel the sadness, I don’t know how long it last.. but forever, he will always be my baby.. he made me a mom even for the short time.. and yes, I have a baby boy.. his name Charles Giguere.. and He is on heaven now.. watching over me !!!

image 9

In a Memorial of our baby boy, Charles Giguere.. May You Rest in Peace

image(4)

image(5) image(7)I never got to hear your cry..

I never saw your beautiful eyes..

I never touched your soft skin..

I never saw your feet kick..

I never got a chance to hold you in my arms..

I never got a chance to change your diapers..

But you are MY ANGEL..

and you will forever be missed …

(your beloved parents)

image(1)

Hello Sunshine .. My Sunshine..

“You are my sunshine.. my only sunshine.. you make me happy.. when the sky are grey..”

2014 is a new beginning of everything. for being warm by the sunshine, covering with a love and starting a life with new perspective.

From the beginning, I knew that life would never ever came with instruction. I made a mistake, turn from the right way, took a wrong path, throw the responsibilities and now… here I am..

The tough life is, the more tougher I become. since I believe, somehow.. someway.. people will step you from back.. even the people you trust.. when marriage can be broke into divorce.. when a good friend could be a stranger.. when a soul mate could be an enemy.. that’s just the way it is..

Since people come and go.. since moment come and go.. since relationship come and go.. since everything is just about sometimes, I learn.. for not count on somebody. For some reason, people will stay in your life but for a better reason, they are not belong into our life..

Letting go is just a word but let the heart go, is more an act.. When you letting go someone or things, GOD put something better in your life and that’s what I have right now..

I letting go the bad things who sucks my happiness from inside.. I’m ready for a new adventure in my life.. I’m ready for the next chapter in life.. and can’t hardly wait to really see you.. hold you.. kiss you.. and say to the world that “You are my sunshine”.

…. Welcome sunshine ….