Cerita pagi ini ….

Saat saya sedang duduk sendiri menikmati kopi di restoran hotel .. Tiba-tiba ada anak perempuan remaja (mungkin sekitar 15 tahun) yang lgs ke meja saya mengambil sendok garpu and just say “Sorry” dan kembali duduk di meja dengan keluarganya

Selang beberapa saat, dia dtg lagi dengan mengambil tissue dan hanya berucap “Sorry”..

Yang saya cermati hanyalah gerak tubuh anak ini … Apakah sudah separah itu sopan santun di negara kita sampai mengambil barang di meja orang lain hanya diungkapkan oleh kata “Sorry”?..

Bukankah harusnya dia menanyakan terlebih dahulu “maaf, bolehkah alat makannya saya ambil etc”.. Just a bit surprise dengan kejadian ini dan orang tua nya pun hanya berdiam saja ..

Akan muncul pertanyaan “apa yang salah dalam pola didik sopan santun generasi bawah kita?” .. Kota Jawa tengah cukup terkenal dengan sopan santun yang cukup tinggi tapi diluar dari pemetaan daerah, bukankah sopan santun memang harus diterapkan dalam kondisi sehari-hari

Kalau kita bicara mengenai lintas budaya, banyak dari kita yang menganggap bahwa “bangsa luar” lebih frontal dalam berbicara.. Namun sejauh saya melihat, mereka menghargai “kepemilikan” orang lain. Mereka akan bertanya terlebih dahulu sebelum melakukan.

Pernah suatu ketika saat saya sedang pergi bersama teman-teman dalam suatu acara keluarga, ada seorang anak kecil (A) yang ingin sekali duduk di kursi mainan yang dibawa oleh si (B). Orangtua nya menganjurkan (A) untuk bertanya dulu apakah dia boleh meminjam kursi (B). Dan pada saat itu (B) menolak meminjamkan. Sang ayah memberi pengertian kepada anaknya bahwa dia harus bisa menerima penolakan tersebut dan ayahnya bangga karena ia berusaha untuk bertanya dan menghargai milik orang lain..

Somehow yang terjadi pada masyarakat kita adalah “kakak boleh meminta sesuatu/barang dari adiknya dan itu adalah harus” atau “adik boleh meminjam sesuatu/barang kepada kakaknya dan itu sifatnya wajib”..

Kita tidak terbiasa untuk “meminta ijin” terlebih dahulu karena kita berfikiran bahwa itu adalah “sudah seharusnya”.. Saya mengambil kesimpulan bahwa saat suatu benda “dirasa” tidak dipakai atau diperlukan atau dibutuhkan oleh orang lain, somehow orang akan melihatnya sebagai sesuatu yang dapat diambil tanpa perlu meminta ijin ..

Yuk mari kita perbaiki pola yang salah ini .. Karena tugas mengajarkan sopan santun adalah tugas kita sebagai orangtua / pendidik / kakak / keluarga. Bagaimanapun pendidikan sopan santun adalah tugas dari “keluarga” bukan “sekolah”..

Mari direnungkan …
– Sudahkah kita mengucapkan “terima kasih” jika kita diberi sesuatu ?
– Sudahkah kita mengucapkan “tolong” saat meminta bantuan ?
– Sudahkah kita mengucapkan “maaf” jika kita berbuat salah ?

Selamat hari Rabu baik .. Selamat menerapkan “sopan santun” dalam keseharian kita dan memberikan contoh bagi anak-anak / rekan / teman / orang-orang di sekeliling kita

Advertisements