Beberapa bulan terakhir ini, saya sempat mempertanyakan arti eksistensi saya, aktualisasi diri saya, keinginan saya, harapan saya bahkan masa depan saya. Dan hal ini membuat saya melihat jauh kebelakang, dimasa kecil saya. Melihat bagaimana peran orangtua saya dalam membesarkan saya, mendidik, menanamkan nilai-nilai serta kontribusi mereka dalam perjalanan hidup saya.

Saya bukanlah anak yang lahir dalam gelimangan harta. Saya adalah anak yang lahir dan menjalani hidup dengan berpedoman pada papa saya. Seorang yang mengajarkan saya arti “bekerja dan berkarya”.  Melihat potensi terdalam saya dan tidak terlena dalam hidup. Dan sekarang, itu semua yang saya petik dari apa yang telah saya tabur.

Sebagai orangtua, terkadang kita mengharapkan anak kita mendapatkan masa depan yang lebih baik dari kita namun sayangnya, orangtua hanya membekali anak dengan materi dan pendidikan. Apa yang salah dengan ini? Well, tidak ada yang salah. Yang ada hanyalah bahwa materi dan pendidikan tidaklah  cukup untuk mendapatkan masa depan gemilang. Orangtua lupa membekali anak-anak mereka dengan “”mental yang kuat” untuk membantu anak-anaknya survive dengan masa depan mereka.

Memiliki seorang mama yang hanyalah ibu rumah tangga, tidak membuat saya memiliki mental “hanya” sebagai seorang ibu atau istri rumah tangga. Meskipun sewaktu saya kecil, mama saya selalu berharap saya dapat mencari “suami yang kaya” sehingga masa depan saya terjamin. Pola pikir mama saya tidak dapat disalahkan karena beliau hanyalah ibu rumah tangga dengan pemikirannya yang sederhana.

Mengambil studi program magister adalah salah satu rencana papa saya bagi masa depan karir saya.  Meskipun beliau bukanlan lulusan magister namun pola pikir yang dibentuk selama menjabat sebagai seorang Branch Manager untuk sebuah perusahaan rokok ternama di Indonesia membuat papa saya memiliki impian, pandangan dan arahan hidup yang akhirnya menyumbangkan kontribusi terhadap karir saya saat ini.

Seperti tulisan saya sebelumnya, bahwa menikah bukanlah akhir tujuan hidup saya. Dan memiliki seorang anak bukanlah tujuan dari pernikahan saya. Saya tidak dipersiapkan orangtua saya untuk memiliki “mental” sebagai istri atau ibu rumah tangga. Dan saya yakin, bahkan mama saya pun berpandangan sedemikian rupa. Karir / profesi / jabatan bukanlah sebuah “prestige” bagi hidup saya melainkan lebih kepada pengembangan potensi dan aktualisasi diri saya.

Banyak dari kita yang terlahir dari keluarga berada, memiliki orangtua dengan pendidikan luar biasa, kuliah di universitas mahal, menikah dengan keluarga kaya namun ternyata sudah dibekali atau membekali “mental-nya” dengan mental seorang istri/ibu rumah tangga. Sangatlah disayangkan bahwa potensi yang ada tidak untuk dikembangkan namun hanya sebagai “prestige” dalam lingkungan sosial saja.

Banyak dari kita pula yang meragukan kekuatan sikap “mental” dalam kehidupan atau bahkan pekerjaan. Bagi saya, Bekerja adalah berkarya. Status dan kondisi saya bukanlah alasan bagi saya untuk berhenti berkarya. Karena saya tidak dipersiapkan dan tidak mempersiapkan diri saya hanya dengan “mental” ibu rumah tangga atau istri rumah tangga.

In my life, I can tolerate FAIL but not LOSS. I’m not preparing my self to be a “common” person which I know I can be more than who I am right now.

Ps : Thanks to my lovely Dad for his greatest lesson

200406-omag-father-daughter-600x411

-Lala-

 

Advertisements