Setelah pembelajaran yang kudapat dari Orangtua, Setelah saya beranjak dewasa, pembelajaran kudapatkan dari lingkungan sekitarku.. dari Teman-temanku.. dimana akhirnya dapat kusimpulkan siapakah #TemanSejati.

Saya belajar dari teman saya dan lingkungan sosial saya. bahwa…

1. Teman yang baik tidak harus mendukungmu atas semua tindakan yang kamu ambil.. Bahwa segala bentuk tindakannya/reaksinya, tidak akan 100% sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Dan dia akan ada dalam rentangan tahun bukan bulan.

Banyak sekali dari kita yang menganggap bahwa seorang #TemanSejati adalah mereka yang selalu ada disamping kita saat kita mengalami permasalahan, yang selalu mendukung apapun yang ingin kita lakukan/katakan, yang akan berteriak senang saat kamu mendapatkan kabar gembira, yang ikut menangis saat kamu lagi sedih/kecewa.. Well, Teman yang baik bukanlah menandakan bahwa ia mempunyai empati yang tinggi. Mereka yang mendengarkan permasalahanmu, yang ikut sedih dikarenakan dukamu atau ikut bahagia karena sukamu, mereka adalah orang-orang dengan empati yang tinggi. Mereka adalah tipe orang yang dapat menangis saat menonton film sedih, atau tertawa terpingkal-pingkal saat menonton film komedi. Namun bukan berarti mereka adalah #TemanSejati-mu. Banyak dari kita yang suka sekali menawarkan bantuan kepada orang lain, bukan karena kita ingin membantu (dengan tulus) namun dikarenakan kita memiliki hobi membantu orang yang berada dalam kesulitan 😀

2. Dalam pertemanan-mu, Mereka akan menilaimu dari atas ke bawah, kiri ke kanan, depan dan belakang. Dan apa yang terjadi dalam “pertemanan” itu bukanlah sesuatu yang mudah di “delete”, “cut” atau “undo”.

Banyak dari kita (termasuk saya sendiri) yang berharap orang lain hanya menangkap sisi positif kita saja. Kita berusaha untuk menekankan kejadian negatif yang kita lakukan sebagai “kondisi galau”, “masa lalu”, “tertekan”, dll. Dengan lantang saya akan berteriak “bullsh*t”… Karena kehidupan bukanlah layar monitor yang bisa di undo sesuka kita. Dan apa yang kita perbuat dalam hidup mereka adalah kegiatan nyata yang 100% dengan sadar kita lakukan. Namun banyak sekali dari kita yang mencoba menyangkal perilaku negatif kita dengan mencari kambing hitam keadaan. Saya menyadari bahwa sebagian dari kita memang berubah menjadi lebih baik. Namun saya lebih menyukai penggunaan kata “perkembangan” dibandingkan “perubahan”. Kita tidak berubah menjadi lebih baik, kita berkembang menjadi lebih baik oleh karena itu kita pun mengubah pemahaman dan perilaku kita pada hal yang lebih baik.

3. Lingkungan bukanlah situasi menakutkan yang akan membuatmu menjadi pribadi yang jahat. Melainkan adalah pembelajaran dan uji coba mengenai ketahanan mental dan kepribadianmu.

Saya seringkali mendengar penggunaan kambing hitam “Lingkungan” atas  keburukan tingkah laku kita. Bahwa bila lingkungan kita buruk maka kita akan menjadi pribadi yang buruk pula. Ada benarnya namun bukanlah 100% benar. Saya penganut teori bahwa “We are the master of our self”. Jadi jika sesuatu yang buruk terjadi atau jika kita melakukan sesuatu yang buruk, hal ini bukanlah dikarenakan kita berada pada lingkungan yang buruk. Namun, kitalah yang membiarkan hal buruk itu terjadi, bahwa kitalah yang membiarkan diri kita melakukan hal buruk tersebut.

Berhentilah menyalahkan keadaan, lingkungan, teman-temanmu ataupun situasi atas apa yang kamu jalani saat ini / apa yang telah kamu lakukan selama ini. Karena manusia adalah mahluk yang memiliki akal dan budi, sebenarnya kita tahu apa yang kita lakukan. Hanya saja kita berusaha menciptakan gambaran yang ideal akan diri kita sendiri.

Gambaran ideal apa yang kamu ciptakan atas dirimu? Apa yang kamu pelajari dari teman dan lingkunganmu yang kamu anggap memiliki poin penting dalam kehidupanmu?

 

^Lala^

Advertisements