Akhir-akhir ini saya agak tergelitik untuk mengemukakan pendapat saya pada salah satu statement “HAPPINESS IS A CHOICE”. Well, saya menyetujui pernyataan tersebut, sangat setuju. Karena saya adalah tipe orang yang memandang bahwa “we are the owner of our self”. Hanya saja beberapa hari lalu, saya jadi agak merasa risih dengan pernyataan tersebut. Mereka menganggap bahwa kita sudah selayaknya memutuskan / memilih untuk bahagia dengan apapun yang terjadi pada kita.

Well, Saya merasa bahwa pernyataan ini akhirnya menyudutkan mereka yang sering merasa galau / sedih. Menurut saya happiness memang pilihan, tapi merasa unhappy pun kadang is the last choice left for us. Who wants to choose not to happy, everyone wants to be happy in their life. If you cant choose to be happy, doesn’t mean that something wrong with you.

Saya pernah merasa tidak bahagia dan saya tahu bahwa saya dapat merasa bahagia. Namun pertanyaan yang sering kali muncul adalah : Bagaimana bisa bahagia kalau memang saya tidak bahagia?.  Bagaimana kita bahagia jika ternyata ada hal emotional yang mempengaruhi perasaan kita ataupun kejadian pada saat ini. Misalnya, Bagaimana saya bisa memutuskan kalau saya bahagia saat saya mendengar orangtua saya masuk rumah sakit? Atau Bagaimana saya bisa memutuskan untuk berbahagia jika ternyata saya baru saja ditipu dan semua asset saya habis?

Ya, saya bisa memilih untuk bahagia dengan keadaan yang kurang menyenangkan bagi saya. Tapi bahagia yang seperti apa? Bahagia memang adalah suatu pilihan. Namun kita tidak bisa mengingkari kalau kita adalah mahluk social yang tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Yang mana hal ini berarti bahwa akan ada kejadian / orang / barang / emosi, dll yang akan mempengaruhi kebahagiaan kita. Dan menurut saya, orang terdekat (keluarga, pacar, suami/istri), mereka adalah orang yang akan sangat berpengaruh dalam hidup kita. Mereka juga berpengaruh atas kebahagiaan kita. Jika mereka tidak memiliki arti apapun dalam hidup kita, saya yakin bahwa apa yang terjadi pada mereka/ apa yang mereka lakukan pada kita/ apa yang mereka rencanakan atas kita, tidak akan pernah mempengaruhi emosional kita.

Ada faktor2 diluar sana yang ikut mempengaruhi kebahagiaan kita. Meskipun pada akhirnya kita dapat berbahagia, kita harus deal with all the things/people that influence our happiness. Contoh : saya bertengkar dengan suami saya karena suatu permasalahan tertentu. Kondisi saya adalah : Saya akan merasa sedih, berlarut-larut tenggelam pada permasalahan saya namun saat saya melihat suami saya, dia terlihat santai dan dapat menjalani aktivitasnya seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu antara kami.

Apakah saya dapat memilih untuk berbahagia? YA, saya bisa. Namun saya tidak ingin memilih untuk bahagia. Mengapa? Karena perasaan saya , diri saya, pikiran saya tidak merasa bahwa saya ingin bahagia. Dan apakah perilaku suami saya dapat dikatakan dia bahagia? Well, tidak juga. Everyone deal their problem with their own coping. Both of us not feel  happy at the time but we show different emotional.

Apakah kami normal, YES WE ARE. For me, its normal for not feeling that you are happy. The most important is not to spread your Unhappiness to people surround you. Take your time, do a little hippo time, enjoy  your UNHAPPY moment and if you ready to be happy, Get up, get out from your cave and choose your happiness.

Happiness is a CHOICE, Yes It Is.. But to really feel everything that happen in your life is a part of it. And You can choose to be UNHAPPY sometimes.. and IT’s NORMAL

 

Advertisements