Hello again…..

Its in the morning that I would like to share my thought that I already want to share around 1 week ago but still cant find time to write it down.

Pemikiran dan tulisan kali ini adalah tentang #label. Dan yang menginspirasiku dalam menulis kali ini adalah buku #LettersToSam (Daniel Gottlieb – Psychologist). Buku ini sangat luar biasa dengan menekankan pada sisi perbedaan dimana Dr. Daniel Gottlieb mengalami kelumpuhan dan cucunya (Sam) adalah memiliki autisme.

Ini salah satu kutipannya yang sangat menginspirasi :

“Being different is not a problem. It’s just being different. But feeling different is a problem. When you feel different, the feeling can actually change the way you see the world”

“Selama bertahun-tahun, ak mendapati bahwa aku bukanlah seorang tunadaksa, aku memang memiliki kelumpuhan. Kau bukan penderita autis, kau memiliki autisme”. Karena #label yang diletakan pada kita, beberapa orang takut mendekati kita”

“Terkadang keadaan memaksa kita untuk berpura-pura kuat dan berani, padahal sebenarnya kita merasakan sebaliknya. Akan lebih baik kalau kita tidak usah berpura-pura kuat ketika sedang merasa lemah, atau berpura-pura berani padahal merasa takut”

“Cinta altruistik berarti memberikan sesuatu kepada orang lain hanya karena alasan belas kasih, bukan karena kau berfikir kau harus melakukannya”

Hal yang paling menginspirasi adalah saat Dr. Daniel Gottlieb mengucapkan kata #Label. Karena hal ini lah yang sering terjadi di masyarakat. Mereka cenderung memberikan label pada kita sesuai dengan apa yang kita lakukan.

Saya ingin cerita sekilas tentang label. Dimana saya pergi dengan teman saya (He has BIG job with his big business in family’s group) kemudian kami membicarakan hal-hal yang sangat umum berdasarkan atas profesi kami. Kemudian teman saya berkata “Well, Dilarang menyebut nama, brand, merek, perusahaan, status atau profesi”

Dan itu lah yang sekarang sedang saya lakukan. Tidak jarang kita menilai orang lain berdasarkan profesinya, jabatannya, keuangannya, atau statusnya. Well, label itu diberikan orang lain atas apa yang mereka lakukan/punya bukan atas siapa diri mereka sebenarnya.

Sama seperti Sam. Dia bukan autis tapi dia memiliki autisme. Saya memiliki profesi sebagai seorang psikolog, konsultan SDM. Dimana terkadang profesi ini memberatkan saya karena orang-orang diluar sana menuntut saya untuk berperilaku sempurna. Mereka menganggap kami (para psikolog) memiliki hidup yang sempurna dengan mampu menyelesaikan permasalahan perasaan kami, mampu memotivasi diri sendiri, Selalu percaya diri dan terlihat bahagia -> tuntutan profesi. Padahal, Im just a human. Saya bisa merasakan sedih, senang, kecewa, tidak percaya diri ataupun #galau (Hmmm, hahahaha…)

Itu adalah serangkaian perasaan saya sebagai MANUSIA bukan sebagai seorang PSikolog. Jika semua orang menganggap profesi sebagai label, saya rasa akan banyak profesi “santa” yang akan masuk ke rumah sakit jiwa. They not dealing with their self, they dealing with their profession

Seperti judul lagu “Rocker juga manusia”.. So We Are.. Saya suka sekali dengan ungkapan “Hippo Time”.. It’s “Me Time”. I can’t please anybody cause I’m just a human. If you live with all your perfection, It’s mean your Perfection become your Weakness. Im not Perfect and I’m happy with that.

Yes, I’m a Psychologist and a human also… Even an Angel, They can be a human also. So Who are You?

Cheers, Lala

Advertisements