Pasti pembaca merasa bingung dengan judul yang saya tuliskan… dan mulai bertanya-tanya, apa maksud dari judul ini.. (sabar sabar… :D). Well, TTP (turn the page) adalah pembelajaran baru yang saya dapatkan dari Pacar saya yang sekarang telah menjabat menjadi suami saya.

Pertanyaannya : Kenapa Turn the page? well, dari awal hubungan kami, permasalahan yang muncul selalu sama. dan bagi saya pribadi (sebagai seorang wanita) dengan tipe kepribadian C (dari tipe kepribadian D-I-S-C), segala sesuatu harus terungkapkan secara detail dan berdasarkan fakta-fakta (repot kan?). dari suami saya lah, akhirnya saya belajar untuk memahami permasalahan-permasalahan satu persatu, berikut pemahaman bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Sebagai pasangan, akan mudah sekali mengalami gelombang-gelombang permasalahan dalam hubungan kita. Terkadang tanpa kita sadari, kita selalu berkutat pada hal-hal yang sama dan dengan hasil yang sama pula. Tidak ada perubahan. Yang ada hanya “pengulangan”. Dan ini yang terjadi pada hubungan saya dan suami selama 3 tahun terakhir ini (masa-masa pacaran). Kami meributkan hal yang sama dan berujung pada hasil yang sama.Dan kesimpulannya adalah : Tidak akan ada PERUBAHAN

Sampai pada akhirnya, saya bertanya dengan suami saya “Kenapa kamu selalu positif dengan hubungan kita? padahal kamu tahu bahwa permasalahan yang akan muncul adalah itu itu terus dan reaksi yang muncul pun akan sama, serta hasil nya pun akan sama?”. Kemudian dia menjawab “Saya berusaha tetap menilai hubungan kita dengan cara yang positif meskipun pada saat itu kondisi hubungan kita tidak baik”.

Saat dia menjawab seperti itu, saya mulai berfikir dan intropeksi diri sendiri. Karena saat kami bertengkar, yang saya lakukan adalah kebalikannya. saya akan ingat kejelekan-kejelekannya dan menonjolkan kelebihan-kelebihan saya (menurut saya). Dan ini yang pada akhirnya membuat gap dalam hubungan kami dan membuat hubungan kami berada pada lingkaran setan (serem amat ya bahasanya.. he he he)

saat saya sedang bertanya kepadanya (dalam situasi bertengkar), saya menginginkan jawaban saat itu. dan saya tidak akan berhenti bertanya sampai saya mendapatkan jawaban yang saya inginkan. sedangkan disisi lain, pasangan saya merasa ia selalu diberikan pertanyaan yang sama dan pastinya dia akan menjawab dengan jawaban yang sama pula. hikmah yang dapat diambil dari situasi ini adalah, kedua belah pihak tidak menyadari bahwa terkadang permasalahan dan jawaban yang benar-benar cocok untuk kedua belah pihak adalah dengan membiarkan permasalahan itu mengalir.

Hal yang saya cermati dalam hubungan saya adalah bahwa terkadang permasalahan yang timbul bukanlah permasalahan yang dapat dijawab oleh kedua belah pihak namun melibatkan pihak ketiga dan situasi luar yang tidak dapat kita kontrol. Dan, kita pun bersikukuh untuk mencari pembenaran atas situasi diluar kontrol kita.

Melalui pembelajaran ini, saya pun mulai membuka hari dan pikiran. dengan menerima bahwa mungkin terkadang ada pertanyaan yang memang tidak ada jawabannya, dan itu normal. dan bahwa manusia (bagaimanapun hakikatnya) adalah mahluk tidak sempurna. dan bahwa kita (manusia) berada pada dunia yang tidak sempurna :). Setelah itu,kami mulai belajar untuk menerapkan TTP.

awalnya susah karena disaat saya masih gencar melancarkan aksi serangan saya (based on the past), pasangan saya sudah mengeluarkan kartu TTP.. :(. Mau ga mau, saya pun mulai menutup mulut dan berbicara hal lain. Mudah? TIDAK !!!! that’s one of the hardest thing to do. Karena saya tipe yang ingin mencari jawaban dan saya dipaksa untuk berhenti mencari jawaban dan bertindak seolah-olah itu tidak pernah terjadi. Tapi, hasil yang saya dapatkan adalah bahwa kami tidak terlarut pada masalah yang sama berulang-ulang.

Ini pun terjadi pada pasangan saya. saat pasangan saya mulai complain atau argue mengenai sesuatu yang sudah terjadi (past), saya akan menunjukan gerakan “membalik buku”. saya bermain TTP dan pasangan saya akan berhenti meributkan “kejadian yang sudah lewat”.

Akhirnya saya membawa permainan ini pada konsep kerja saya dengan partner saya. terkadang konflik merupakan “kata” dan “situasi” yang tidak mungkin dapat dihindari dalam kehidupan. tapi kita bisa mengatasinya dengan TTP. contohnya : pernah saya mengutarakan ketidaksetujuan saya kepada partner saya. kemudian saat situasi memanas, saya hanya berkata ” saya ingin kamu tau apa yg selama ini saya rasakan dan karena kamu telah menjawab pertanyaan saya, maka mari kita tutup buku – TTP”.

Melihat kembali pada tulisan saya sebelumnya di “Nice vs Honest”. Kita boleh kok mengutarakan perasaan kita “being honest” dengan diri sendiri meski nanti hasilnya tidak se “nice” yang kita bayangkan. namun setelah mengutarakan isi hati, kita tidak boleh bermain terlalu lama di area “hitam” tersebut..

TURN the PAGE…. and Live Your Life Right Now…

Regards,

Lala

Advertisements