Kemarin, saya bertemu dengan teman-teman saya. Rasanya menyenangkan dapat bertemu dan berbincang dengan teman yang saya anggap cukup bijak di usianya. Kami berbicara ringan mengenai hal-hal simple seperti hotel yang bagus itu seperti apa? makanan yang enak itu yang bagaimana? siapakah diantara orang-orang disekitar kami yang sedang kesulitan, dll.. Obrolan ringan yang kemudian menjadi sebuah awal cerita mengenai “uang”. Penasaran? Ayo lanjut dibaca…

Ini ceritanya : Pada tahun 1990an, ada 2 orang kakak beradik yang datang ke Indonesia untuk memulai suatu bisnis furniture. Karena pada masa itu bisnis Furniture menjadi bisnis yang cukup menjanjikan dimana mereka dapat membeli furniture dengan harga murah dan mengeksport ke luar negeri dengan harga yang berlipat-lipat. Dapat dikatakan, inilah tahun-tahun dimana bisnis furniture mulai merajalela di sekitar Indonesia dan sekitarnya.

Well, dua orang bersaudara ini pun memulai bisnis ini tanpa pengetahuan apapun mengenai furniture (kayu). Mereka hanya mengandalkan niat dan kerja keras. Saat mereka datang ke Indonesia, mereka tidak membawa apapun, bisa dikatakan mereka memulai dari NOL. Nol untuk pengetahuan tentang furniture dan Nol untuk modal besar.

Bisnis pasti tidak berjalan mudah, tipu-menipu pasti terjadi dan kecurangan pasti adalah salah satu dari sekian cobaan yang mereka alami. Hal ini bisa didasarkan pula atas minimnya informasi mereka mengenai furniture ataupun kendala bahasa yang mereka alami. Namun tahun demi tahun, cobaan demi cobaan, tipuan demi tipuan, dan segala rintangan dapat mereka lewati dengan tegar.

Saat bisnis mulai berjalan dengan baik, sang kakak pun akhirnya memutuskan untuk membuka sebuah perusahaan furniture di negaranya dengan si adik yang akan in charge di Indonesia dan mencoba untuk me-manage bisnis di Indonesia beserta proses produksi dll. Dan pada saat ini mereka telah memetik hasil dari kerja keras mereka 20thn yang lalu. Dapat dikatakan bahwa mereka adalah salah satu orang asing yang terkaya di kota ini.

Namun, nasib tidak selalu berjalan baik, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita mau. Sang kakak yang secara financial lebih dari adiknya mengalami perceraian dengan istrinya di negaranya. Perpisahan ini ternyata berdampak cukup besar untuknya dan cukup menggoyangkan kehidupannya. Setelah sekian lama berfikir, akhirnya dia menjual perusahaannya di negaranya dengan harga sangat murah.

Saat saya bertemu dengannya kemarin, ia terlihat sebagai orang yang low profile dan sedang menata hidupnya. Dan saat ia bertemu dengan teman-teman seperjuangannya di bidang furniture 20thn yang lalu, mereka selalu mempertanyakan mengapa ia menjual perusahaannya. Karena itu adalah hal terbodoh yang pernah mereka kenal (dari segi bisnis). Namun ia hanya tersenyum dan tidak membahas masalah itu. Sekarang ia telah memulai bisnisnya entah pada bidang apa (mungkin furniture) dan ia cukup optimis akan usaha yang ia lakukan saat ini.

Saat teman saya menceritakan pada saya mengenai orang ini, saya hanya memandangi orang ini dengan perasaan aneh namun saat teman saya berkata kepada saya, saya tiba-tiba merasa kagum pada orang ini.

Ini yang dikatakan teman saya “La, saya akan ceritakan sesuatu. Kalau kamu bisa menangkap makna dari cerita ini, ini adalah berkat untukmu. Namun saat kamu belum mengetahui maknanya, dengan bertambahnya usia, kamu akan paham mengenai hal ini”. Saya hanya menganggukan kepala dan mulai mendengarkan teman saya berkata. “Tahukah apa yang dia katakan saat saya bertanya mengenai bisnisnya yang ia serahkan kepada istrinya? Dia menjawab bahwa : Jika saya pernah melakukannya, saya pasti bisa melakukannya lagi.”. Kemudian teman saya bertanya lagi kepadanya “Sebenarnya apa yang kamu cari? dulu kamu mau “kaya” dan sekarang kamu sudah kaya, tapi mengapa kamu melepaskan semuanya? “dan ia pun menjawab “saya salah, ternyata bukan kaya yang saya mau, saat ini saya ingin good life”.

then…. end of the story…………………..

Well, bagi saya ini adalah kutipan atau cerita singkat yang saya terima kemarin namun berdampak luar biasa untuk pemikiran saya. Selama ini saya berusaha untuk mengejar keinginan saya untuk memenuhi kebutuhan saya. Tak jarang saya mengikat diri saya untuk membeli barang-barang yang saya inginkan hanya karena saya tidak ingin membuang-buang uang hasil kerja saya. Saya nyaman untuk memberikan orang lain barang atau hadiah, namun tidak untuk diri saya.

Melalui cerita ini, saya mulai berfikir “Apa yang saya inginkan dalam hidup saya? Apakah menyimpan uang? Jika telah menyimpan uang dan membahagiakan orang lain, apa yang akan saya lakukan dengan uang saya? Bagaimana jika saya tidak punya cukup waktu untuk menyenangkan diri saya?”

Teman-teman, saya tidak men”dewa”kan uang, dan saya harap kalian pun demikian. saya juga tidak mengajak teman-teman untuk menghabiskan uang yang teman-teman punya karena akan ada perbedaan besar antara memberikan reward pada diri sendiri dengan perilaku konsumtif. Saya telah belajar bahwa dengan memiliki “GOOD LIFE” bukan berarti saya harus memiliki “A LOT OF MONEY”. Melainkan bagaimana untuk menggunakan uang yang saya miliki untuk menikmati hidup saya. Dan cara menikmati kehidupan itu berbeda-beda, bisa dengan membelanjakan uang tersebut dan memberikan “reward” pada diri kita, dengan mentraktir diri kita makan makanan yang enak atau pergi ke restoran mahal sekali-kali, dengan memberikan hadiah kepada orang-orang tersayang kita, atau mungkin juga dengan membeli “proteksi” atas kesehatan kita.

Menurut saya having a good life is ENJOYING MY LIFE….

so, How about you? What is “GOOD LIFE” in your perception?

Thank You for Reading…

Cheers,

Lala

Advertisements